Dompet Dhuafa Menggelar Indonesia Humanitarian Summit 2025: Empowerment to The Next Level
Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report – EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL menjadi salah satu momen penting dalam kalender kemanusiaan dan filantropi Indonesia. Diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa pada tanggal 15 Januari 2026 berlokasi di Nusantara TV Ballroom, NT Tower Pulo Mas Jakarta Timur, Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Nusantara TV menggelar Indonesia Humanitarian Summit 2025 bertema " Empowerment to The Next Level. Kegiatan ini bukan sekadar laporan tahunan biasa, tetapi sebuah refleksi strategis tentang bagaimana filantropi di Indonesia tengah bergerak dari sekadar pemberian bantuan menuju pemberdayaan berkelanjutan yang mampu mengangkat derajat kehidupan masyarakat luas. Tema Empowerment to the Next Level menangkap esensi ini: menempatkan pemberdayaan bukan hanya sebagai tujuan, tetapi sebagai langkah transformatif dalam menjawab tantangan sosial dan ekonomi bangsa.
Acara di Indonesia Humanitarian Summit (I-HitS) hadir perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah Republik Indonesia serta Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta.
Hadir juga Entrepreneur, Sandiaga Uno; Rahmad Riyadi, Anggota Pembina Dompet Dhuafa, Anggota Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif; Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Direktur IDEAS, Agung Pardini; Ketua Bidang Inovasi dan Literasi Forum Zakat, Eko Muliansyah; Direktur Komersial NTV, Dede Apriandi; Owner Batik Trusmi, Sally Giovanny; Founder dan CEO Agradaya, Andhika Mahardika; serta Penerima Manfaat Dompet Dhuafa, M Attiatul Muqtadir
Forum ini menggarisbawahi bahwa lembaga filantropi tidak hanya harus menjadi “penyalur kebaikan”, tetapi juga “penggerak perubahan” yang memfasilitasi masyarakat keluar dari siklus ketergantungan bantuan. Dengan demikian, filantropi diposisikan sebagai sekutu penting pembangunan nasional, bukan sekadar sebagai mitigator krisis.
Laporan yang diungkap dalam summit ini menunjukkan capaian yang impresif. Hingga 2025, Dompet Dhuafa mencatat telah menjangkau lebih dari 41,8 juta jiwa penerima manfaat sejak lembaga ini berdiri pada 1993 — mencakup berbagai program kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, dan lainnya. Sepanjang tahun 2025 saja, sekitar 2,82 juta jiwa masyarakat menerima manfaat dari 3,63 juta layanan yang diselenggarakan. Angka ini menunjukkan fokus Dompet Dhuafa pada skala dampak yang besar dan luas.
Dari sisi pendanaan, total penghimpunan Dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp426,51 miliar, dengan total penyaluran hampir Rp422,94 miliar. Tingkat serapan penyaluran berada pada angka 103 persen — sebuah indikator tinggi yang menunjukkan efektivitas distribusi dana berdasarkan standar alokasi yang diakui secara profesional (Allocation to Collection Ratio dan Zakat Core Principle).
Ini bukan sekadar angka tetapi cerminan dari akuntabilitas, tata kelola yang kuat, serta kemampuan lembaga filantropi dalam merancang serta mengeksekusi program dengan dampak nyata bagi kelompok rentan di seluruh nusantara.
Salah satu poin penting yang terus digarisbawahi dalam summit ini adalah pentingnya kolaborasi lintas sektor antara lembaga filantropi, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Gelaran hadirkan narasumber dari berbagai latar mulai dari pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, hingga pelaku usaha dan penerima manfaat. Kolaborasi ini memperkuat sinergi dalam merancang program pemberdayaan yang tidak hanya relevan, tetapi juga berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan real masyarakat.
Pemerintah melalui berbagai pernyataannya di acara ini menekankan bahwa peran lembaga zakat dan filantropi tidak semata diukur dari jumlah dana yang dihimpun, tetapi dari bagaimana dana tersebut mengubah mustahik (penerima manfaat) menjadi muzakki (kontributor aktif kembali). Ini menandai pergeseran paradigma: filantropi dipandang sebagai bagian dari strategi pembangunan sosial-ekonomi jangka panjang.
Selain itu, keterlibatan berbagai stakeholder publik dan swasta membuka ruang bagi inovasi dan pembelajaran bersama. Diskusi tentang pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, kesehatan preventif, pendidikan inklusif, serta wirausaha sosial menunjukkan bahwa agenda filantropi kini semakin kompleks, strategis, dan relevan dengan tantangan nasional serta global.
Makna pemberdayaan yang digagas di Indonesia Humanitarian Summit 2025 melebihi sekadar program kegiatan. Ia mengajak kita memikirkan kembali peran lembaga filantropi sebagai institusi strategis dalam arsitektur sosial bangsa. Pemberdayaan berarti memberi alat, keterampilan, peluang, dan akses agar masyarakat yang tadinya rentan mampu berdiri sendiri, mengatasi kesulitan, dan berkontribusi kepada lingkungan sekitarnya.
Hal ini semakin relevan di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan krisis sosial yang tak terduga. Dalam lanskap ini, pendekatan pemberdayaan memberi harapan bahwa filantropi bisa menjadi kekuatan pemersatu, bukan sekadar pemberi bantuan sesaat, tetapi sebagai mitra strategis dalam pembangunan manusia seutuhnya.
Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report dengan tema “Empowerment to the Next Level” bukan hanya catatan tahunan dompet dhuafa, tetapi juga refleksi penting bagi seluruh elemen bangsa untuk bersama memajukan kultur filantropi yang lebih profesional, terukur, kolaboratif, dan berdampak jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa filantropi di Indonesia kini semakin matang siap membawa pemberdayaan ke level berikutnya.





0 komentar